Apa Yang Dapat Dilakukan?

Kuliner Khas Bagek Kembar

Post Page Advertisement [Top]

Terinspirasi dari paparan dan pelaksanaan Program Rehabilitasi Kawasan Pesisir dengan Penanaman Mangrove yang dilaksananan oleh Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar di pesisir di Desa Cendi Manik, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, para pemuda di Dusun Madak Belek - dusun terdekat dengan lokasi rehabilitasi - berkumpul dalam sebuah wadah kelompok masyarakat untuk meneruskan program tersebut dengan menjadikan kawasan mangrove itu menjadi kawasan ekowisata berbasis mangrove.

Bagek Kembar dipilih menjadi nama identitas kawasan ekowisata berbasis mangrove ini karena nama ini memiliki kharisma di kalangan warga masyarakat sekitar lokasi. Bagek artinya pohon asem, sementara Kembar artinya sama/duplikat. Jadi Bagek Kembar artinya dua pohon asem yang identik. Pohon ini saat ini sudah tidak ada, namun namanya masih terngiang di benak warga masyarakat sekitar.

Kelompok Pemuda tersebut berupaya untuk meneruskan program rehabilitasi mangrove yang telah dilakukan dengan menjadikannya sebagai kawasan ekowisata. Namanya Kawasan Ekowisata Mangrove Bagek Kembar, disingkar KEMBar. Secara kelembagaan, kelompok pemuda tersebut menamakan diri sebagai Kelompok Masyarakat Pengelola Ekowisat Mangrove, disingkat PokMasLaWisMa. Lembaga ini diketua oleh H. Agus Alwi dengan dukungan anggota para pemuda di Dusun Madak Belek.

Visi pengembangan Ekowisata Mangrove Bagek Kembar adalah menjadi kawasan ekowisata berbasis ekosistem mangrove terbaik di Wilayah Nusa Tenggara Barat yang dikelola oleh masyarkat setempat secara modern.

Visi tersebut diturunkan menjadi tiga misi sebagai berikut:
  1. Misi Ekologi, yaitu bahwa pengembangan ekowisata mangrove harus dapat menjaga dan memulihkan ekosistem mangrove yang merupakan ekosistem esensial di wilayah pesisir. Ekosistem mangrove yang telah ada akan dirawat dan dijaga dan lahan-lahan yang masih kosong atau kerapatan mangrovenya rendah akan ditanami mangrove-mangrove baru.
  2. Misi Ekonomi, yaitu bahwa pengembangan ekowisata mangrove harus dapat memberikan tambahan penghasilan ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan mangrove. 
  3. Misi Edukasi, yaitu bahwa pengembangan ekowisata mangrove harus membuat semakin banyak warga masyarakat sadar terhadap arti penting ekosistem mangrove dan mau terlibat aktif dalam upaya-upaya pelestariannya.
Ketiga misi tersebut dikenal dengan konsep 3E.

Untuk mencapai visi dan misi tersebut, dilakukan berbagai aktifitas dan kegiatan di Ekowisata Mangrove Bagek Kembar. Diantaranya adalah:
  1. Menanam mangrove secara terus menerus dengan program Adopsi Mangrove dan event-event penanaman yang dilaksanakn oleh berbagai pihak lain. 
  2. Melakukan penelitian kecil tentang mangrove di Bagek Kembar dan hal-hal terkait lainnya yang dapat dilakukan secara perseorangan atau mengundang mahasiswa ataupun peneliti.
  3. Melakukan rekayasa pemulihan habitat mangrove.
  4. Meningkatkan sarana-prasarana pendukung kegiatan ekowisata, seperti pembuatan trekking, tempat selfie, menara, penambahan perahu kano, pembuatan berugak-berugak, ruang pertemuan, restoran, dan pondok wisata, serta tempat parkir, tempat outbond, dll.
  5. Melakukan budidaya air payau dengan komoditas yang terkait erat dengan ekosistem mangrove, secara lestari dan berkelanjutan.
  6. Menciptakan aktifitas-aktifias dan produk-produk wisata.
  7. Menciptakan dan meningkatkan kualitas serta kuantitas produk kuliner pesisir (seafood) berbasis sumberdaya mangrove.
  8. Meningkatkan kemampuan pengelolaan ekowisata bagi pengelola, meliputi administrasi, keuangan, pemasaran, dan pelayanan, melalui pelatihan, program relawan, maupun pengabdian masyarakat dari lembaga-lembaga terkait.
  9. Meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Bagek Kembar, khususnya wisatawan khusus, bukan wisatawan masal.
  10. Membuat sarana pembelajaran tentang ekosistem mangrove bagi masyarakat.
  11. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan insidental dalam rangka memperingati hari-hari besar nasional maupun regional yang mengkombinasikan aspek konservasi, pelestarian alam, dan pendidikan lingkungan.


--------
Download:

  1. Dokumen Rencana 
  2. Laporan Pelaksanaan
  3. Brosur Pengembangan Ekowisata
  4. Laporan Monitoring Mangrove 2017
  5. Bayyan, MM. 2019. Penggunaan Unmanned Aerial Vehicle (UAV)  untuk Pemetaan Mangrove di Kawasan Mangrove Bagek Kembar, Sekotong, Lombok, Nusa Tenggara Barat  Skripsi. Universitas Brawijaya.

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]